1
4

11 Ritual Adat Istiadat Jawa yang Terkenal di Mancanegara

Adat Istiadat Jawa – Negara Kesatuan Republik Indonesia terkenal dengan beragam suku dan budayanya. Saking banyaknya sangat sulit mengahapal satu persatu suku di Indonesia. Namun yang sering orang tahu hanya beberapa suku daerah saja seperti suku Jawa.

Mengapa harus suku Jawa yang harus dikenal? Ya, karena beberapa tahun pulau Jawa telah menjadi poros pemerintahan pusat Indonesia. Maka sebagian orang pun mengharuskan tahu sejarah, adat dan kebiasaan orang Jawa. Agar bisa saling menghormati karena setiap suku memiliki kebiasaan yang berbeda.

Sehingga bila saling tahu dan memahami antar suku akan terjalin kesatuan dan rasa menghormati antar sesame warga negara Indonesia meski berbeda-beda. Hakikat Indonesia bersatu adalah “Bhineka Tunggal Ika”.

Nah, di suku Jawa juga ada beberapa tradisi adat istiadat yang mungkin perlu anda ketahui. Mari simak ulasan berikut ini.

Asal Usul Suku Jawa

Asal Usul Suku Jawa

Asal Usul Suku Jawa

Babad tanah Jawa merupakan awal mula terbukanya tanah jawa. Diawali dengan adanya sebuah kerajaan yang telah ada dahulu kala. Yakni kerajaan Kling yang saat itu berada pada masa ujung kekacauan akibat kurang setianya para penduduk kerajaan.

Kemudian beberapa dari kalangan kerajaan Kling pun juga ada yang berkelana hingga ke menemukan pulau Jawa. Mereka mulai membentuk sebuah kelompok hingga tercipta satu koloni yang menetap di tanah Jawa.

Berbeda dengan surat kuno yang berasal dari keratin Malang. Disebutkan di dalamnya bahwa tanah Jawa dibuka oleh pengembara pada tahun 450 SM. Dengan dalih mengembara untuk mencari kekuasaan tempat di dunia yang masih kosong.

Sedangkan menurut Arkeologis, asal usul Jawa berasal dari suku bumi jawa asli. Terbukti dengan ditemukannya fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus dan Homo Erectus.

Fosil tersebut ditemukan pertama kali di Trinil pada tahun 1891 dan hingga saat ini masih diberi sebutan fosil manusia jawa (nenek moyang suku jawa).

Adat Istiadat Suku Jawa

Hiburan Wayang Kulit

Hiburan Wayang Kulit

Kebiasaan & Kebudayaan Suku Jawa

Suku Jawa juga memiliki kebiasaan budaya yang mungkin terkenal hingga mancanegara. Mengingat suku Jawa adalah suku terbesar Indonesia. Adapun kebiasaan adat suku Jawa yakni sebagai berikut.

  • Hiburan Wayang

Wayang merupakan hiburan favorit dari zaman ke zaman bagi masyarakat Jawa khususnya. Pertunjukan ini diperagakan dengan berbagai cara dan jenis berbeda-beda. Bisa dengan alat (wayang kulit, wayang karikatur) amupun wayang orang.

Di dalam kisah perwayangan bisa disampaikan mengenai kisah para pahlawan Indonesia Jawa khusunya, para wali songo dan kisah kehidupan Jawa seperti Ramayana, Arjuna, Pandhawa dan lainnya.

  • Senjata Tradisional Jawa

Keris menjadi senjata tradisional masyarakat Jawa karena menurut keyakinan Jawa keris memiliki aura dan kesaktian yang melebihi senjata lain.

  • Seni Jawa

Suku Jawa memliki alat music tradisional berupa gamelan. Gamelan sangat condong digunakan oleh para pendahulu untuk menyebarkan agama islam melalui seni. Terutama para wali songo.

Kombinasi kendang, gong, boning dan lainnya juga sangat diperlukan guna menyaringkan suaru seni music tersebut. Lalu dengan bunyi music gamelan, nyanyian islami yang bisa mengambil hati masyarakat Jawa juga dilantunkan oleh para wali.

  • Seni Tari

Selain musik dan perwayangan masyarakat Jawa juga mempunyai tarian khas Jawa yang memiliki gerakan berdasarkan unsur magis yang lembut. Adapun beberapa jenis tarian Jawa yaitu sintren, bedhaya, kuda lumping, reog dan lainnya.

Dalam pertunjukan tari Jawa, para tamu biasa menggunakan baju khas Jawa pula, yakni berupa baju batik. Karena mereka menganggap acara tersebut juga acara penting dan sebagai kesenangan menghapus kepenatan harian.

  • Bahasa

Dalam suku Jawa, dalam bekata ada aturan khususnya. Hal ini dipisahkan sebagai pemisah antar golongan ( pengelompokan umur), yakni untuk saling menghormati.

Adapun jenisnya yaitu basa ngoko (untuk berkata kepada seseorang yang umur dibawah pembicara), basa karma madya (untuk berbicara dengan sesame umur) dan basa karma inggil (untuk berbicara dengan orang yang umurnya lebih tua).

Aksara Jawa memiliki 20 buah huruf yaitu ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja,ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga. Artinya adalah ada dua utusan yang setia saling bertarung sama-sama saktinya dan sama-sama matinya.

  • Filosofi Hidup

Falsafah yang dianut oleh orang masyarakat Jawa sangtlah beragam. Mereka semua berorientasi bahwa hidup itu harus bersama dan bermanfaat. Beberapa diantaranya menyatukan falsafahnya dalam kata “urip iku urup” hidup itu harus bermanfaat, “mangan ora mangan sing penting kumpul” kebersamaan merupakan hal penting dan lain-lain.

Urip Iku Urup

  • Kebudayaan Jawa

Merupakan suatu budaya yang sangat melekat dalam masyarakat jawa. Ajaran ini merupakan gabungan dari adat istiadat, budaya, pandangan sosial dan filosofis orang Jawa. Ajaran kejawen hampir mirip seperti agama yang mengajarkan spiritualitas masyarakat Jawa kepada Penciptanya. Kebuadayaan Jawa sangat identik dengan upacara adat. Pembahasan tersebut akan berlanjut di sub di bawah ini.

Upacara Adat Jawa

Upacara Sekaten di Solo

Upacara Sekaten di Solo

Tidak sampai di situ saja. Selain kebiasaan dan kebudayaan adat istiadat Jawa yang sangat variatif. Suku jawa juga memiliki upacara dan acara adat tersendiri.

Upacara Kenduren

Upacara Kenduren biasa dilakukan atas dasar peringatan doa yang dilakukan masyarakat dengan dipimpin langsung oleh tokoh adat/agama masyarakat daerah tersebut.

Kenduren juga disebut nama “selametan”. Yang mana arti dari kata itu adalah selamat dari sesuatu. Bisa diartikan juga syukuran atas sesuatu yang pernah terjadi pada seseorang.

Upacara Grebeg(an)

Upacara ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur kerajaan atas berkat limpahan karunia rizki dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan juga diikuti oleh masyarakat sekitar keraton kerajaan.

Acara ini juga hanya dilakukan setahun 3 kali saja. Tepatnya pada tanggal 12 Mulud (bulan ketiga Jawa), 1 Syawal (bulan kesepuluh) dan 10 Besar (bulan kedua-belas).

Upacara Sekaten

Kegiatan tahunan ini digelar karena memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Digelar di beberapa tempat tanah Jawa. Namun yang paling sering adalah keratin Surakarta dan Yogyakarta.

Diselenggarakan selama 7 hari 7 malam dengan adanya pesta syukuran dari keraton dan dibukanya pasar untuk masyarakat umum.

Upacara Ruwatan

Ruwatan adalah upacara menyucikan anak dari mara bahaya, termasuk menghilangkan hal-hal yang dianggap sial bagi suku Jawa.

Yang mana ruwatan dilaksanakan di tempat tertentu dan bisa dilakukan secara masal oleh banyak anak. Di tanah Jawa yang sering dijadikan tempat berpusatnya ruwatan yakni dataran tinggi Dieng.

Upacara Pernikahan Jawa

Upacara nikah suku Jawa dianggap sangat sakral bagi masyarakat setempat. Saking pokoknya upacara pernikahan harus menentukan tempat, waktu dan momen yang tepat.

Di dalam prosesinya pun juga demikian ada beberapa hal yang harus dilakukan kedua pengantin agar lebih langgeng sakinah mawadah warahmah. Yaitu sebagai berikut :

  1. Siraman.
  2. Ngerik.
  3. Midodareni.
  4. Serah-serahan.
  5. Nyantri.
  6. Balangan Suruh.
  7. Panggih.
  8. Ritual wiji dadi.
  9. Kacar kucur.
  10. Dhahar Klimah.
  11. Tumplek Sunjen.
  12. Sungkeman.

Upacara Tingkepan

Dilakukan upacara tingkepan karena adanya istri atau keluarga yang sedang hamil 7 bulan. Ditujukan kepada sebuah sedekah agar bayi tetap sehat dan diberi kelancaran dalam melahirkannya (bayi).

Upacara Tedak Sinten

Sejenis upacara syukuran atau selametan yang diperuntukan untuk bayi berusia 8 bulan atau usia bayi sudah muali belajar berjalan.

Dilakukan oleh suku Jawa dengan dalih berbagi untuk memberi ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi kesejatan, kekuatan dan limpahan rizki untuk anak tersebut.

Upacara Kematian Suku Jawa

Upacara kematian atau sering dibilang upacara mendak bila di suku Jawa. Upacara mendak dilakukan setahun setelah kematian seseorang.

Sedangkan mitoni merupakan tujuh hari pasca kematian seseorang. Biasanya upacara dilakukan dengan cara pembacaan yasin tahlil dan kirim doa untuk sang mayit.

Acara Nyewu

Hampir sama dengan yang sub-bab di atas. Nyewu adalah acara kirim doa dan pahala bagi mayit tepatnya setelah 1000 hari setelah kematian seseorang.

Demikian pembahasan mengenai adat istiadat Jawa yang bisa kami sampaikan untuk menambah ilmu kita. Semoga bermanfaat.

Untuk berlanjut memahami sisi suku Jawa dan luasnya ragam budaya Indonesia Anda bisa mengunjungi website rujukan lainnya di damainesia.com. Terima kasih.

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply