Pengalaman Magang Di Masjid Jogokariyan

Semua mahasiswa Universitas Ibn Khaldun (UIKA) pasti akan merasakan pengalaman magang atau PPL (program Pengalaman Lapangan) yang biasanya dilakukan diakhir semester sebelum melanjutkan tahap untuk menyusun skripsi.

Fakultas yang saya ambil di UIKA adalah fakultas agama islam dengan prodi komunikasi dan penyiaran islam (KPI). Prodi KPI ini dibagi menjadi dua konsentrasi yaitu dakwah dan jurnalistik.

Saya memilih konsentrasi dakwah pada saat naik ke semester 5. Kelas kami berjumlah 28 orang dengan perbandingan 20 mahasiswa mengambil dakwah dan 8 mahaswa mengambil jurnalistik.

Memilih tempat magang.

Pengalaman Magang Di Masjid Jogokariyan
source Pixabay.com

Pada saat itu kelas jurnalistik akan mengadakan kunjungan ke Radio JIC atau Jakarta Islamic center yang berharap kedepannya bisa melakukan kerjasama antara kampus dengan radio.

Saya ikut dengan teman-teman dari jurnalistik untuk melakukan kunjungan. Setelah kunjungan berakhir terfikir ingin magang di Radio JIC.

Semester demi semester sudah terlewati dan saat itu sudah menginjak ke semester 7 yang mewajibkan mahasiswanya untuk magang atau PPL.

Saya memutuskan untuk ingin magang di Radio JIC dan memberanikan diri berkonsultasi dengan ibu Zahroh selaku Kaprodi KPI saat itu.

Saat itu beliau menanggapi positif maksud saya untuk magang di Radio JIC. Selang beberapa hari beliau menawarkan kepada saya untuk magang di salah satu masjid yang ada di Yogyakarta.

Masjid itu adalah Masjid Jogokariyan yang saat itu sedang ramai di masyarakat karena manajemen masjidnya yang bagus sehingga menjadi contoh bagi masjid yang lainnya.

Saya pun menjadi galau setelah diberikan tawaran tersebut sebab dulu saya pernah bersekolah di Yogyakakarta tapi tidak tau tentang Masjid Jogokariyan.

Akhirnya saya memutuskan untuk magang di Masjid Jogokariyan dengan segala pertimbangan yang sudah sudah saya fikirkan secara matang.

Saya pun kembali menghadap bu zahroh untuk memberikan jawaban kepada beliau bahwa saya akan magang di Yogyakarta.

Beliau memberikan jawaban iya kepada saya dan berpesan “untuk sekalian menyelesaikan skripsi dengan tema masjid jogokariyan”. Saya berangkat magang ke Yogyakarta ditemani oleh satu teman yang sama-sama satu kelas di konsentrasi dakwah.

Masjid Jogokariyan

Pengalaman Magang Di Masjid Jogokariyan
source Antaranews.com

Masjid Jogokariyan terletak di sebuah kampung yang bernama Kampung Jogokariyan Yogyakarta. Dahulu kegiatan keagamanaan dan dakwah berpusat di sebuah langgar kecil di pojok kampung dengan ukuran 3×4 meter pesegi.

Kampung ini dulunya terkenal sekali dengan sebutan kampung merah karena berbasis PKI. PKI bisa masuk ke dalam Kampung Jogokariyan dengan memanfaatkan kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi saat itu.

Gerakan PKI disambut antusias oleh warga Jogokariyan yang termarjinalisasi ini, sehingga di Jogokariyan menjadi basis PKI yang didominasi warga miskin dan buruh.

Para juragan yang berasal dari Abangan aktif di PNI dan beberapa pendatang dari Karangkajen menjadi pendukung Masyumi (Jumlahnya minoritas).

Pada saat meletus G30S PKI 1965, banyak warga yang diciduk (ditangkap dan dipenjara) sebagai tahanan politik.

Di masa-masa kritis tersebut Masjid Jogokariyan dibangun dan menjadi alat perekat untuk melakukan perubahan sosial menjadi masyarakat Jogokariyan yang berkultur Islam.

Masjid Jogokariyan telah benar-benar melaksanakan fungsi sebagai agen perubahan. Jogokariyan yang dulu Abangan Komunis kini menjadi masyarakat Islami melalui dakwah berbasis Masjid.

Sampai saat ini Masjid Jogokariyan selalu ramai dengan jamaah dari kampung itu sendiri maupun jamaah dari luar. Banyak jamaah dari luar yang penasaran dengan konsep manajemen masjid yang diaplikasikan oleh Masjid Jokokariyan.

Bahkan Masjid Jogokariyan sempat menjadi juara pertama dalam lomba masjid percontohan yang diselenggarakan oleh departemen agama (depag) DIY pada tanggal 22 agustus 2016.

Dakwah Berbasis Masjid 

Takmir Masjid Jogokarian membuat skenario planning dalam memajukan da’wah di Masjid Jogokarian. Dalam membuat Skenario Planning, Ta’mir membuat 3 periode.

Periode pertama pada tahun 2000- 2005, Periode kedua pada tahun 2005-2010, Dan periode ketiga pada tahun 2010-2015. Skenario planning pada tiap periode memiliki karakteristik yang berbeda. Tetapi, jika ditinjau dari jenis dan jumlah program kerjanya tidak jauh berbeda.

Gambaran skenario planning pada setiap periode, antara lain Jogokariyan Islami (2000-2005), dengan mengubah masyarakat dari kaum abangan menuju islami.

pada tahapan ini proses mengubah secara pelan-pelan dengan cara sebagai berikut :

  • pemuda yang suka mabuk di jalan, diarahkan ke masjid.
  • Warga yang belum shalat diajak untuk shalat. Mengajak anak kecil beraktivitas di Masjid.
  • Warga yang shalat di rumah diarahkan shalat di Masjid.
  • Bahkan, menjadikan para pemabuk sebagai kemaanan Masjid.

Pada 2004, dibuat sebuah terobosan program baru agar para jamaah lebih meramaikan masjid. Caranya, yaitu dengan membuat Undangan Cetak, layaknya pernikahan.

Semua undangan ditulis dengan daftar nama. UNDANGAN itu persis berbunyi :

Mengharap kehadiran Bapak/Ibu/Saudara …. dalam acara Shalat Shubuh Berjama’ah, besok pukul 04.15 WIB di Masjid Jogokariyan..”

Undangan itu dilengkapi hadits-hadits keutamaan Shalat Shubuh. Hasil terobosan program itu cukup menakjubkan.

Ada peningkatan jumlah jamaah secara signifikan. Hal itu bisa dilihat ketika jumlah jamaah sholat Shubuh, bisa mencapai sepertiga jumlah jamaah Sholat Jumat.

Skenario planning ke 2 adalah Jogokariyan Darusalam I pada rentang 2005-2010 Yaitu :

  • membiasakan masyarakat untuk berkomunitas di Masjid.
  • Jama’ah subuh menjadi 50% (10 shaf) dari Jama’ah shalat jumatan.
  • Menyejahterakan Jama’ah melalui lumbung Masjid.
  • memperbanyak pelayanan.
  • membuka poliklinik.
  • memberikan bantuan beasiswa.
  • memberikan layanan modal bantuan usaha.

Skenario Planning ke 3 adalah Jogokariyan Darusalam II pada rentang 2010-2015  yaitu :

  • meningkatkan kualitas keagamaan masyarakat.
  • Menuntaskan orang yang belum shalat Jama’ah.
  • Meningkatkan Jama’ah shalat subuh menjadi 75% (14 shaf) dari Jama’ah shalat jumatan.
  • Menjadikan para (eks) pemabuk menjadi bagian dari Masjid (BBM, relawan Masjid, dll).

Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan dakwah Masjid Jogokariyan

Keberhasilan dakwah tentu saja tidak luput dari banyak faktor yang mempengaruhi nya. Uraian dibawah ini adalah beberapa faktor yang menurut saya berpengaruh sekali untuk keberhasilan dakwah Masjid Jogokariyan dalam mengislamisasi Kampung Jogokariyan sampai bisa seperti saat ini, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Adanya tokoh yang disegani

Pengalaman Magang Di Masjid Jogokariyan
Source darunnajah.com

Salah satu faktor utama dakwah Masjid Jogokariyan adalah adanya tokoh yang disegani, menjadi uswatun hasanah bagi jamaahnya. Pada saat itu tokoh yang di segani adalah Ust M Jazir ASP, beliau menjabat sebagai takmir masjid selama 3 periode (2000 – 2015).

Beliau pernah menyampaikan bahwa “beda antara imam masjid dan imam sholat. Imam masjid adalah seorang pemimpin yang ditunjuk untuk melayani jamaah”. Karena ketokohan beliaulah mampu menggerakkan masyarakat yang dulu nya pemabuk dan tidak pernah sholat menjadi rajin ke masjid untuk sholat jamaah.

Beliau melakukan pendekatan dakwah fardhiyah yang mana beliau langsung menyasar kepada persoalnya. Bahkan beliau langsung terjun ke dalam komunitas tersebut, beliau mengajak mereka makan dan setelah kenyang mereka diajak ke masjid.

Ustadz Jazir membuat beberapa perubahan terhadap sistem Masjid Jogokariyanpada saat itu diantara nya adalah : ibadah, program pemakmuran masjid, dan manajemen masjid nya. 

Ibadah, beliau melakukan peningkatan agar jumlah jamaah sholat shubuh seperti hal nya sholat jum’at.

Program Pemakmuran Masjid, beliau mencoba untuk membuat program-program pemakmuran dengan tujuan untuk menjadikan masjid sebagai sentral kegiatan umat islam sehingga menghilangkan anggapan bahwa masjid hanya sebagai tempat ibadah saja.

Manajemen Masjid, manajemen masjid ini tidak kalah pentingnya karena dengan manajemen yang baik, program-program pemakmuran masjid bisa berjalan sesuai dengan yang di harapkan.

Beliau pernah mengatakan “Takmir masjid itu harus punya ilmu manajemen masjid sehingga masjid nya itu bisa termanejemen dengan baik dan tidak sepi” yang tujuannya adalah mengembalikan masa-masa kejayaan masjid seperti masa Rasulullah SAW yang mana masjid pada saaat itu makmur dan berfungsi sebagaimana mestinya

Ust Jazir merupakan sosok Takmir masjid yang ideal, karena beliau mengabdikan diri untuk kepentingan masjid. Ketika beliau tidak sibuk, aktivitas beliau lebih banyak di masjid.

Beliau mengatakan bahwah “Takmir Masjid itu harus bisa berbaur dengan jamaah, jangan setelah sholat jamaah langsung pergi meninggalkan masjid”.

  1. Adanya program yang memberikan kemanfaatan bagi masyarat

Pengalaman Magang Di Masjid Jogokariyan

Masjid Jogokariyan memfasilitasi jamaah untuk mendapatkan tambahan ilmu agama maupun ilmu lainnya dari taklim/kajian yang diadakan oleh Masjid. Mulai dari kajian rutin sehabis shubuh maupun kajian yang bersifat rutin harian.

NoNama KajianJadwal KajianPelaksana
1.Kuliah ShubuhSetiap bakda shubuhTakmir
2.Tahsin Al Qur’anSenin, Maghrib – Isya’Imam Masjid Jogokariyan
3.Tafsir Qur’anSenin, 20.00 – 21.30Ust Aris Munandar
4.Majlis DhuhaKamis, 08.00 – 09.00Ustadz Jazir
5.Majlis Jejak NabiKamis, 16.00 – 17.30Ust Salim A Fillah
6.Tadabur Al Qur’anJum’at, 16.00 – 17.30Ust Okrizal Eka Putra

Tidak hanya kajian untuk orang dewasa saja yang tersedia, akan tetapi kajian untuk anak anak dan remaja pun ad. Sehingga anak-anak dan remaja pun bisa mengupgrade keilmuan nya.

  1. Komunikasi intensif dengan jamaah

Takmir masjid beserta pengurus masjid lainnya senantiasa melakukan komunikasi terus menerus kepada jamaahnya. Mulai dari bincang-bincang santai setelah kuliah shubuh, bahkan jamaah yang mau konsultasi diterima 24 jam di kantor Masjid Jogokariyan.

Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *