101

Momen I’tikaf Di Masjid Namira Lamongan

Momen I’tikaf Di Masjid Namira Lamongan

 

Masjid Namira Lamongan – Bulan ramadhan merupakan bulan yang dinantikan oleh umat islam. Pada bulan tersebut banyak orang berlomba-lomba untuk memperbanyak ibadah dan amal sholeh. Terlebih lagi ketika di 10 hari terakhir di bulan ramadhan yang selalu dinantikan oleh umat islam. Karena Allah SWT telah mempersiapkan satu malam yang sungguh istimewa, dimana malam tersebut lebih baik dari 1000 bulan (lailatul qodar) lainnya serta malam saat malaikat turun membawa rahmat dari-Nya.

Salah satu amalan yang dilakukan kebanyakan umat islam untuk menyambut datang nya  lailatul qodar adalah I’tikaf di masjid. banyak sekali masjid yang menyediakan fasilitas untuk orang yang ingin beri’tikaf di masjid salah satunya adalah Masjid Namira lamongan yang terletak di Desa Jotosanur, Kecamatan tikung, kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Sudah kebiasaaan sejak libur sekolah dulu ikut I’tikaf bersama kakak di Malang tepatnya di Masjid Ustman Bin Affan yang berada di belakang UIN Maulana Malik Ibrahim. akan tetapi, sejak pindah kuliah ke Bogor, aktivitas I’tikaf tersebut berhenti dan digantikan dengan tugas menyediakan takjil di masjid kampus sampai H-5 sebelum ramadhan.

Saat itu ada seorang kakak dari Jakarta yang order baju koko, dan beliau mengatakan kalau ingin I’tikaf di Masjid Namira Lamongan. Mendengar hal itu akhirnya direncanakan untuk ketemuan dan menyerahkan baju koko sekaligus ingin merasakan susasana I’tikaf di masjid tersebut.

untuk persiapan awal tentunya pulang lebih cepat dari bogor karena perjalanan Bogor – Lamongan lumayan melelahkan. Biasanya tugas untuk menyediakan takjil sampai H-5, saya undur diri dan pulang duluan karena ingin merasakan I’tikaf di Masjid Namira Lamongan.

Sampai di rumah saya beristirahat dahulu beberapa hari sambil mempersiapakan beberapa kebutuhan sehari-hari yang akan dibawa untuk I’tikaf. Yang penting adalah mempersiapakan pakain dan celana untuk beberapa hari sehingga tidak perlu untuk mencuci dan focus untuk ibadah.

Selain pakaian dan celana, peralatan sholat tak kalah penting karena itu adalah kebutuhan utama untuk bisa menunjang ibadah ketika I’tikaf. Setelah semua persiapan telah siap semua, yang tersisa adalah keberangkatan menuju ke lokasi itikaf. Saya berangkat dari rumah menuju Masjid Namira  pada tanggal 24 ramadhan siang hari dengan menggunakan mobil.

Saya sampai di masjid namira  kurang lebih setelah ashar. Karena memang blm sholat ashar saya langsung mengambil wudhu untuk melakukan sholat ashar bersama jamaah yang blm melakukan sholat ashar juga. Ketika pertama kali masuk kedalam masjid langsung disambut dengan hawa dingin dari AC yang jumlah nya lumayan banyak. Tidak hanya itu, bau parfum khas Mekkah pun semerbak menyelimuti seluruh ruangan. disamping itu karpet yang dipakai pun sanyat nyaman membuat betah ingin berlama-lama di masjid.

Setelah melaksanakan sholat ashar terlihat banyak jamaah yang sedang santai sambil membaca alqur’an ataupun berdzikir. Saya pun bertemu dengan kakak dan diantarkan menuju tempat untuk menginap bagi jamaah yang ingin itikaf. Satu hal lagi yang membuat saya takjub adalah terdapat kiswah ka’bah yang terletak di depan tempat imam yang membuat sensasi seperti sedang di Makkah. selain bertemu dengan kakak, saya pun bertemu dengan beberapa jamaah lain yang berasal dari Lamongan, Surabaya, dan beberapa tempat lainnya.

waktu berbuka merupakan yang dinantikan oleh para jamaah. tidak hanya dari jamaah I’tikaf saja, akan tetapi jamaah lain yang singgah untuk berbuka dan sholat maghrib di masjid namira.

Menjelang waktu berbuka, masjid namira juga menggelar pengajian yang terletak di lapangan samping masjid. sebelum adzan dikumandangakan, jamaah diberikan air minum, kurma dan snack untuk persiapan berbuka. Ketika adzan berkumandang jamaah pun langsung berbuka dengan takjil yang sdh tersedia. Setelah itu langsung dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah.

Sholat maghrib telah selesai dilaksanakan, saat nya untuk melanjutkan dengan makan berat yang sudah disediakan oleh takmir masjid namira yang belokasi tidak jauh dari tempat pengajian. Setiap hari nya masjid namira mampu menyediakan menu buka puasa untuk para jamaah hingga 2500 – 3000 orang. Selain makan berat juga disediakan teh hangat, kopi, bahkan air zamzam. Begitupula dengan sahur, takmir masjid biasa menyiapkan menu sahur untuk para jamaah hingga 2000 – 2500 orang.

Setelah menikmati makanan berat yang disediakan  oleh takmir masjid, langsung dilanjutkan dengan sholat isya’ berjamaah dan sholat tarawih. Khusus di 10 hari di bualan ramadhan masjid namira seringkali mengundang para qari’ untuk menjadi imam sholat. Para qari’ ini biasanya di datangkan dari timur tengah. Selain menjadi imam sholat mereka juga terkadang mengisi ceramah. Jika qari’nya menggunakan bahas arab biasanya imam masjid namira yang akan menjadi penerjemahnya. Selain tarawih para qari’ juga meng-imami sholat tahajud. Tidak jarang surat yang dibacakan juga panjang. Tetapi itu tidak menyurutkan niat jamaah untuk mengikuti sholat tahajut tersebut.

Biasanya ketika malam genap peserta tahajud sedikit karena banyak yang setelah selesai tarawih langsung pulang. Berbeda sekali sekali ketika malam ganjil bisa dipastikan jamaah penuh hingga menjelang sahur dan dilanjutkan dengan sholat shubuh berjamaah.

Suasana pada saat sholat tahajud sangatlah khitmat selain suara merdu dari qari’ heningnya malam seakan ikut mendengarkan. Tidak jarang ada orang yang menangis saat sholat tahajud karena memang suasananya yang luar biasa seakan menyadarkan kita terhadap kehadiran yang maha kuasa.

selesai sholat tahajud biasanya sahur sudah siap, dan orang-orang biasanya meneguk kopi yang memang tersedia untuk sahur

setelah beberapa hari I’tikaf di masjid namira tibalah saat nya pulang. Sebelum pulang peserta I’tikaf dikumpulkan bersama untuk bertujuan mempererat silaturahmi sehiongga ketika sdh di rumah masih terus berhubungan baik.

Tak lupa juga momen ngobrol bareng bersama pendiri Masjid Namira yaitu pak Helmy Riza atau yang biasa dipanggil Haji Joni. Beliau bercerita awal nya Masjid Namira ini mempunya luas 1 hektar yang dapat menampung sekitar 500 jamaah. Akan tetapi setelah diperluas  mempunyai luas 2,7 hektar yang dapat menampung sekitar 2500 jamaah. Beliau juga bercerita bahwa miris melihat ada masjid yang terkunci setelah aktivitas sholat dilaksanakan. maka salah satu motivasi beliau membangun Masjid Namira adalah agar para musafir bisa dengan leluasa sholat di masjid, sehingga Masjid Namira terbuka untuk umum 24 jam.

Beliau juga bercerita bahwa Masjid Namira mempunya program beasiswa bagi anak-anak kecil. Tujuannya adalah untuk menjadikan anak-anak gemar ke masjid. masjid menyediakan mesin sidik jari untuk presentasi ketika shalat berjamaah di masjid dan mendapatkan satu poin sebagai imabalannya. Setelah berhasil mengumpulkan 90 poin, mereka akan mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 100.000.

Tidak hanya itu ada juga fasilitas air minum gratis yang selalu terisi didalam kulkas yang letaknya berdampingan dengan mesin sidik jari. Dan itupun gratis untuk para jamaah yang ingin minum. Ada juga fasilitas kursi lipat untuk membuat jamaah nyaman dalam membaca Al-Qur’an, serta tersedia juga kursi roda dan kursi bagi jamaah yang sdh lanjut usia. Semua itu dilakukan oleh beliau tidak lain agar jamaah merasa nyaman beribadah di masjid. karena fasilitas tersebut masjid namira menjadi salah satu masjid yang dijadikan sebagai objek studi banding bagi masjid-masjid yang ada di Nusantara.

Setelah selesai berdiskusi dengan pak helmy, para peserta I’tikaf berfoto bersama dengan beliau sebagai tanda kenang-kenangan bahwa pernah melakukan I’tikaf di masjid Namira Lamongan. ada yang langsung pulang dan ada yang melanjutkan sampai lebaran. Saya pun memilih untuk langsung pulang ke rumah dan persiapan lebaran idul fitri esok hari.

sungguh pengalaman yang tidak bisa terlupakan bisa merasakan i’tikaf dengan suasana seperti di Mekkah. semoga suatu saat bisa secara langsung merasakan atmosfer i’tikaf di tanah suci.. Aamiin

Moment I'tikaf di Masjid Namira Lamongan

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply